niat mandi wajib karena keluar mani atau mimpi basah

niat mandi wajib karena keluar mani atau mimpi basah Niat mandi wajib atau mandi junub (mandi besar) dilakukan setelah keluar mani atau mengalami mimpi basah. Mandi wajib merupakan bagian dari tata cara bersuci dalam agama Islam.

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ مِنَ اْلِجنَابَةِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى


nawaitul ghusla lirof’il hadatsil akbari minal janaabati fardho lillahi ta’aala
Artinya: “Saya niat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar dari nifas fardhu karena Allah ta’ala.”

Niat ini juga bisa diucapkan dalam hati dan tidak perlu diucapkan secara lisan. Ingatlah bahwa niat ini haruslah sungguh-sungguh dan dilakukan dengan kesadaran penuh serta niat yang tulus karena Allah.



Untuk niat mandi wajib, tidak ada lafaz (ucapan) tertentu yang harus diucapkan. Namun, niat dapat dilakukan dalam hati dengan maksud untuk membersihkan diri dan menjalankan kewajiban mandi junub.
Berikut ini adalah langkah-langkah melakukan mandi wajib setelah keluar mani atau mimpi basah: Niat: Niatkan dalam hati untuk mandi wajib dengan maksud membersihkan diri dari hadas besar (janabah) akibat keluarnya mani atau mimpi basah.
Bilas air di seluruh tubuh: Mulailah dengan membasuh anggota tubuh bagian atas, seperti kepala, wajah, dan leher, kemudian lanjutkan ke anggota tubuh bagian bawah, seperti tangan, lengan, perut, paha, kaki, dan lainnya. Pastikan seluruh tubuh terkena air.
Berkumur-kumur dan menghirup air: Berkumurlah dengan air dan sedikit menghirup air ke dalam hidung, lalu keluarkan kembali.
Basuh alat kelamin: Bersihkan alat kelamin secara menyeluruh.
Mandi wajib: Setelah membasuh seluruh tubuh, basahi seluruh tubuh dengan air secara keseluruhan.
Sekali mandi sudah cukup: Mandi wajib hanya perlu dilakukan satu kali untuk membersihkan diri dari hadas besar. Tidak ada keharusan untuk mandi berulang kali.

Setelah melakukan mandi wajib, Anda dianggap bersuci dan dapat melanjutkan aktivitas sehari-hari serta melakukan ibadah-ibadah lainnya. Penting untuk dicatat bahwa praktik dan tata cara beragama dapat berbeda-beda di antara mazhab dan budaya yang berbeda. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, disarankan untuk berkonsultasi dengan seorang ulama atau ahli agama yang kompeten.

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *